Makalah Belajar Dan Pembelajaran

 BAB I

PENDAHULUAN

I.I LATAR BELAKANG

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Proses belajar itu terjadi karena antara interaksi antara seseorang dengan lingkungan.

Oleh karena itu belajar dpat terjadi kapan saja dan di mana saja. Salah satu pertanda bahwa seorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan atau sikapnya. Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap.

I.II RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian belajar?

2. Bagaimana penelitian tentang belajar?

3. Bagaimana penerapan belajar di lembaga pendidikan SD?







BAB II

PEMBAHASAN

II.I PENGERTIAN BELAJAR

Menurut Uno (2008:22) ”Belajar merupakan suatu pengalaman yang diperoleh berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya”. Belajar adalah perubahan perilaku seseorang akibat pengalaman yang ia dapat melalui pengamatan, pendengaran, membaca dan meniru (Yamin, 2008:122).

Menurut Aunurrahman (2010:35) “Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri didalam interaksinya dengan lingkungan”. Lebih lanjut menurut Sagala (2010:31) “Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang untuk memperoleh penguasaan kognitif, afektif, dan psikomotorik melalui proses interaksi antara individu dan lingkungan digunakan dengan mendiskripsikan perubahan potensi perilaku yang berasal dari pengalaman, sehingga meyebabkan munculnya perubahan perilaku yang bersifat positif baik perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun psikomotorik”.

Dari pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa belajar adalah perubahan perilaku (kognitif, afektif, dan psikomotorik) seseorang akibat pengalaman melalui proses interaksi antara individu dan lingkungan.









BAB III

PENELITIAN

III.I  PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA PADA SISWA SEKOLAH DASAR KELAS IV


METODE 

Metode riset yang digunakan oleh penulis adalah metode eksperimen. Adapun desain observasi yang dipakai adalah desain riset eksperimen quasi eksperimen tipe The Nonequivalent pretest posttest control group desain. Desain ini memiliki kelompok kontrol dan percobaan dengan desain sebagai berikut: Kelas A sebagai kelas kontrol. Kelas B sebagai kelas eksperimen.


Pada tahap awal siswa di kelas control dan eksprimen diberi soal yang sama mengenai pemahaman konsep matematis. Selanjutnya kelas eksperimen mendapatkan pembelajaran menggunakan pendekatan konteskstual. Sementara kelas control menggunakan pembelajaran konvensional. Setelah keduanya mendapatkan perlakuan, peneliti menguji kembali hasil dari pendekatam tersebut melalui soal postes. Soal pretes dan postes dijadikan pembanding untuk mengukur ketercapaian pendekatan kontesksual terhadap pemahaman konsep matematis siswa. Pendekatan kontesktual diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa sekolah dasar. 


HASIL DAN DISKUSI 

a. Uji Mann-Whitney 


Pengujian Mann-Whitney dilakukan karena Ho ≤ 0,05 pada uji homogenitas tidak diterima. 

Hipotesis yang diujikan adalah: 

1. Jika nilai signifikasi lebih kecil dari porbabilitas 0,05 maka hipotesis atau Ha diterima. 

2. Jika nilai signifikasi leih besar dari probabilitas 0,05 maka hipotesis Ha ditolak. 


Berdasarkan uji Mann-Whitney, didapatkan Asymp. Sig 0,02. Mengacu kepada dasar pengambilan keputusan Uji Mann-Whitney, maka didapatkan bahwa Ha diterima karena nilai sig < 0,05. Berdasarkan analisis data kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat disimpulkan bahwa pembelajaran konvesional tidak dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada materi menghitung bangun datar secara signifikan. 

KESIMPULAN 

Secara umum peserta didik di kelas eksperimen mempunyai respon yang lebih baik daripada di kelas kontrol. Peserta didik yang diberikan pelajaran matematika menggunakan pembelajaran kontekstual sebagian siswa meras senang dan antusias melakukan percobaan, karena mereka merasakan pembelajaran yang lebih menyenangkan.


III.II HUBUNGAN ANTARA LES PRIVAT MATEMATIKA DENGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VI SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2018/2019 DI MI MIFTAHUL AKHLAQIYAH TAMBAKAJI NGALIYAN SEMARANG


Pembahasan Hasil Penelitian

Pendidikan non formal adalah pendidikan yang setiap kegiatan terorganisasi dan sistematis, di luar sistem

persekolahan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk anak-anak tertentu di dalam mencapai tujuan belajarnya. Siswa yang mengikuti les privat memperoleh nilai prestasi belajar lebih baik dibandingkan dengan siswa yang

tidak mengikuti les privat. Hal ini dapat dibuktikan melalui penelitian tentang hubungan antara Les Privat Matematika dengan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VI Semester Gasal Tahun Pelajaran 2018/2019 di MI Miftahul Akhlaqiyah Tambakaji Ngaliyan Semarang. Siswa kelas VI yang mengikuti les privat memperoleh rata-rata nilai matematika yaitu 86, sedangkan siswa yang tidak mengikuti les privat memperoleh rata-rata nilai matematika yaitu 68. Dan KKM nilai matematika kelas VI di MI Miftahul Akhlaqiyah Tambakaji Ngaliyan Semarang yaitu 70. Nilai rata-rata kelas VI di MI Miftahul Akhlaqiyah Tambakaji Ngaliyan Semarang yaitu 79. Dari hasil tersebut, dapat ditarik kesimpulan jika siswa yang mengikuti les privat akan memperoleh nilai prestasi belajar lebih baik dibandingkan dengan siswa yang tidak mengikuti les privat. Untuk mengetahui hubungan antara les privat matematika (variabel X) dengan prestasi belajar matematika kelas VI (Variabel Y) dari perhitungan koefisien korelasi antara les privat matematika (Variabel X) dengan prestasi belajar matematika kelas VI (variabel Y) diperoleh =

0,637. Selanjutnya diuji signifikannya dengan membandingkan , bila menggunakan untuk n =

36 dan taraf signifikansinya 5% maka = 0,329. Dari hasil perhitungan ternyata = 0,637 lebih besar dari Dengan demikian korelasi 63,7 % signifikan. perhitungan = 63,7% memiliki tingkat hubungan

“Kuat”. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang peneliti ajukan yaitu ada hubungan positif antara les privat matematika terhadap prestasi belajar matematika kelas VI semester gasal tahun pelajaran 2018/2019 di MI Miftakhul Akhlaqiyah Tambakaji Ngaliyan Semarang dapat diterima. Artinya jika siswa mengikuti les privat matematika, maka akan lebih baik prestasi belajar matematika kelas VI semester gasal tahun pelajaran 2018/2019 di MI Miftakhul Akhlaqiyah Tambakaji Ngaliyan Semarang.


III.III PENGEMBANGAN ATTITUDE E-ASSESSMENT PADA PEMBELAJARAN

MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH ATAS

Metode Penelitian :

Penelitian menggunakan model pengembangan 4-D yang disarankan oleh Thiagarajan, Semmel & Semmel (dalam Trianto, 2011:94). Model pengembangan 4-D terdiri dari empat tahapan yaitu, define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan),dan disseminate (penyebaran). Pada tahap define peneliti melakukan analisis kebutuhan kepada guru dan siswa serta melakukan kajian-kajian tentang nilai-nilai karakter yang terkandung dalam matematika. Pada tahap design peneliti melakukan perancangan terkait produk yang akan dikembangkan berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan kajian-kajian sebelumnya. Pada tahap develop peneliti melakukan pembuatan produk yang diikuti dengan uji coba individu. Kemudian pada tahap terakhir yaitu disseminate, peneliti melakukan uji coba kelompok kecil dilanjutkan dengan melakukan penyebaran produk kepada pihak-pihak terkait. Uji coba individu dilakukan kepada tiga orang validator yaitu praktisi, ahli evaluasi pembelajaran, dan ahli media pembelajaran. Sedangkan uji coba kelompok kecil dilakukan kepada 10 siswa kelas X.


PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis peneliti terhadap hasil lembar validasi instrumen angket kebutuhan guru

dan siswa, angket penilaian ahli, dan angket respon user, maka didapatkan kesimpulan bahwa, angket kebutuhan guru dan siswa mendapatkan nilai 2,9 dan 2,9 yang bermakna bahwa angket tersebutmemerlukan sedikit revisi, sedangkan angket penilaian ahli dan angket respon user mendapatkan nilai 3,3; 3,2; 3,2; dan 3,2 yang bermakna bahwa angket tersebut tidak memerlukan revisi. Analisisterhadap hasil angket kebutuhan guru dan siswa, peneliti mendapatkan kesimpulan bahwa rata-rata90% guru dinyatakan sangat butuh dan 87,3% siswa dinyatakan butuh pengembangan produk attitudee-assessment.Analisis terhadap hasil uji coba individu yang dilakukan kepada praktisi, ahli evaluasipembelajaran, dan ahli media pembelajaran didapatkan kesimpulan bahwa produk attitude eassessmentmendapatkan nilai rata-rata sebesar 3,34 yang bermakna bahwa produk yang dihasilkan telah valid tanpa memerlukan revisi. Sedangkan analisis yang dilakukan berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil mendapatkan kesimpulan bahwa produk attitude e-assessment mendapatkan nilai rata-rata sebesar 3,32 yang bermakna bahwa produk yang dihasilkan telah valid tanpa memerlukan revisi. Analisis terhadap hasil lembar validasi angket termuat dalam Tabel 3, sedangkan analisis terhadap hasil uji coba individu dan uji coba kelompok kecil termuat dalam Tabel 4 dan Tabel 5. Adapun produk attitude e-assessment yang didapatkan dari hasil penelitian pengembangan ini tertera dalam Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3.


PENUTUP

Dari hasil penelitian yang dilakukan, secara umum dapat disimpulkan bahwa produk pengembangan attitude e-assessment pada pembelajaran matema-tika sekolah atas dinyatakan valid atau tepat tanpa memerlukan revisi


III.IV PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SDN 016 LANGGINI KABUPATEN KAMPAR


METODOLOGI PENELITIAN 

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Wardani, Dkk (2004:14) mengemukakan bahwa “Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat”. Tahap-tahap dalam PTK merupakan satu daur atau siklus yang terdiri dari : 

(1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan Tindakan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. 

Tahap-tahap penelitian tindakan kelas sebagai berikut: 

1. Tahap Perencanaan 


Pada tahap ini peneliti bersama guru bidang studi merencanakan kegiatan dan menetapkan waktu dan cara penyajian, menentukan alternatif tindakan yang dapat dilakukan, menyiapkan alat dan teknis analisis data. 

2. Tindakan 


Tindakan merupakan tahap pelaksanaan dari perencanaan, pada tahap ini peneliti melaksanakan tindakan yang telah disepakati bersama pada tahap perencanaan. 

3. Pengamatan 


Pada tahap ini peneliti sebagai observer mengobservasi tindakan yang sedang dilakukan oleh guru bidang studi. 

4. Refleksi 


Refleksi merupakan tahap akhir dari suatu daur penelitian tindakan kelas. Pada tahap ini peneliti bersama pembimbing dan guru kelas mendiskusikan hasil tindakan dan masalah yang terjadi di kelas penelitian. Dengan demikian refleksi dapat ditentukan setelah adanya tindakan dan hasil observasi. Setelah melakukan refleksi biasanya muncul permasalahan atau pemikiran baru, sehingga merasa perlu perencanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang, dan refleksi ulang. 

Penelitian ini dilakukan dikelas IV SDN 016 Langgini dalam dua siklus, satu siklus terdiri dari 2 pertemuan, daur siklus penelitian tindakan kelas (PTK) Penelitian ini mengambil lokasi di Sekolah Dasar Negeri 016 Langgini. Sesuai dengan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang telah ditetapkan oleh pusat, maka penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2016/2017. Objek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 016 Langini yang berjumlah 27 orang siswa terdiri dari 9 orang siswa laki-laki dan 18 orang siswa perempuan. 

Kegiatan penelitian dilaksanakan berdasarkan perencanaan tindakan yang telah ditetapkan, yaitu pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat. Fokus tindakan pada penelitian ini adalah penggunaan model PBL yang dioptimalkan untuk meningkatkan pembelajaran matematika. Pada tahap pelaksanaan tindakan ini, proses pembelajaran dilaksanakan dengan menjalankan skenario pembelajaran yang telah dirancang dan terdapat dalam RPP.

HASIL DAN PEMBAHASAN 

1. Siklus I 

a. Perencanaan Tindakan 


Pada tahap perencanaan peneliti berkolaborasi dengan guru kelas IV SDN 016 Langgini membuat persiapan yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan lembar tugas siswa. Sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran. Penggunaan model Problem Based Learning (PBL) dalam perencanaan pembelajaran matematika diwujudkan dalam bentuk rancangan pembelajaran yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Perencanaan ini didasarkan pada semester I sesuai dengan penelitian berlansung. Perencanaan pembelajaran disusun untuk satu kali pertemuan atau 3x35 menit. Materi diabil dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran matematika kelas IV semester I. 

b. Pelaksanaan Tindakan 


Pelaksanaan pembelajaran siklus 1 ini sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pada pertemuan I ini peneliti akan mencoba menyelesaikan indikator yang telah ditetapkan. Pelaksanaan tindakan yang dilakukan adalah merujuk pada skenario pembelajaran yang telah dirancang yaitu melalui pembelajaran dengan model PBL kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model PBL terdiri atas beberapa tahap, yaitu: diawali dengan guru mengucapkan salam, menyiapkan siswa untuk belajar, berdoa, dan mengabsensi siswa. Melakukan apersepsi yaitu menanyakan apa saja tugas rumah yang diberikan oleh ibu. Contoh adik diberi tugas oleh ibu untuk membeli sebuah kue dengan harga 4.500, kue tersebut akan dibeli sebanyak 4 potong, berapakah uang yang dibutuhkan adik untuk membeli kue? Selanjutnya menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Orientasi siswa pada masalah, Guru memberikan permasalahan tentang ” menyelesaikan masalah yang melibatkan uang” kemudian guru menjelaskan gambaran pembelajaran tentang materi yang akan diajarkan secara garis besar. Dalam hal ini guru tidak secara penuh menjelaskan tetapi guru juga melakukan tanya jawab dengan siswa, sehingga siswa ikut berperan aktif dalam pembelajaran. 

Mengorganisasikan siswa untuk siap belajar, guru melakukan serangkaian peragaan dengan menggunakan media dan mendefinisikan tugas yang akan siswa kerjakan. Membimbing pengalaman individu/kelompok, Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok dibagikan media dan LTS yang telah disediakan oleh guru. Mengamati, siswa diminta untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dalam LTS dengan cara mengamati media gambar yang yang di berikan guru. Menanya, selama pembelajaran berlangsung siswa bertanya mengenai masalah yang di hadapi, guru mengawasi pekerjaan siswa dan memberikan bimbingan atau arahan untuk meluruskan hal-hal yang masih kurang dipahami oleh siswa dalam pemecahan masalah. Mengumpulkan informasi, Siswa mengumpulkan informasi mengenai masalah yang terdapat dalam LTS dengan bantuan media pembelajaran yang berupa gambar. Mengolah informasi, Guru membantu siswa mengolah informasi yang telah ditemukan dalam gambar. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, guru membimbing siswa dalam merancang, dan membuat laporan hasil karya kelompok sesuai dengan LTS dan media yang telah diberikan guru. Mengkomunikasikan, perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok yang telah dilaksanakan. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, dengan mengacu pada jawaban siswa, melalui tanya jawab, guru dan siswa membahas penyelesaian masalah. Pada kegiatan penutup siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran secara bersama-sama. 

c. Observasi 


Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada siklus I, pada tahap ini dilakukan oleh observer. Tugas utama observer mengamati aktivitas yang dilakukan guru dan siswa sesuai dengan lembar observer yang disediakan. Dari hasil pengamatan observer pada siklus I ini, dilaporkan sebagai berikut: dalam pembelajaran siswa masih kurang aktif, hal ini dibuktikan siswa masih belum bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Kemudian pada saat siswa memecahkan permasalahan didalam diskusi kelompok siswa masih ada yang tidak aktif dalam diskusi kelompoknya, karena ada siswa yang tidak ikut berpartisipasi dalam diskusi sehingga guru memberi motivasi kepada siswa yang pasif didalam diskusi kelompok. Hasil observasi aktivitas siswa yang tergolong cukup dikarenakan hasil dari observasi aktivitas guru juga belum terlaksana dengan baik. Dalam pelaksanaan langkah-langkah model PBL, guru belum sepenuhnya melaksanakannya dikarenakan guru belum terbiasa melaksanakan model PBL. Ketuntasan nilai belajar yang diharapkan belum tercapai sesuai dengan yang ditetapkan yaitu 85%, sedangkan ketuntasan yang dicapai hanya 70% dengan 19 siswa yang mencapai ketuntasan. 

d. Refleksi 


Kegiatan refleksi dilakukan secara kolaboratif antara guru kelas dan praktisi sebagai observer pada setiap pembelajaran berakhir. Pada kesempatan ini temuan dan hasil pengamatan peneliti dibahas bersama. Refleksi tindakan siklus I ini mencakup refleksi terhadap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan hasil yang diperoleh oleh siswa. Peneliti bersama guru melakukan refleksi untuk menganalisis kelebihan dan kekurangan selama proses pembelajaran berlangsung. Hal-hal yang dianalisis adalah hasil belajar dan pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan model PBL yang tertuang di lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas siswa. Analisis tersebut sebagai acuan perbaikan pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan digunakan sebagai acuan untuk menentukan langkah-langkah lebih lanjut dalam rangka mencapai tujuan PTK. Hasil analisis juga digunakan sebagai bahan perencanaan pada siklus berikutnya dengan membuat rencana tindakan baru agar menjadi lebih baik lagi. 

2. Siklus II 

a. Perencanaan Tindakan 


Hasil analisis refleksi pada siklus I pada pertemuan pertama dan kedua menunjukkan perlunya dilanjutkan ke siklus yang ke II. Pada siklus yang kedua ini direncanakan beberapa hal diantaranya mempersiapkan kembali Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran PBL. Perencanaan disusun untuk 2 kali pertemuan, dimana alokasi waktu untuk satu kali pembelajaran adalah 2 × 35 menit. Materi yang diambil untuk materi pembelajaran pada siklus dua merupakan lanjutan dari materi siklus satu. Materi diambil dari KTSP SD 2006 pada mata pelajaran Matematika kelas IV semester ganjil. 

Kompetensi Dasar yang ingin dicapai, yaitu siswa mampu menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan uang. Untuk mencapai Kompetensi Dasar tersebut rencana pembelajaran dibagi menjadi 3 tahap yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan (Penyajian), (3) Tindak Lanjut. Ketiga tahap ini tidak berdiri sendiri melainkan terkait antara kegiatan satu dengan kegiatan lainnya. 

b. Pelaksanaan Tindakan 


Peneliti memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam kemudian mengecek kehadiran siswa. Pelaksanaan pembelajaran siklus II ini sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah ditetapkan. Pada dua pertemuan disiklus II ini peneliti akan mencoba menyelesaikan indikator yang telah ditetapkan. Pelaksanaan tindakan yang dilakukan adalah merujuk pada skenario pembelajaran yang telah dirancang yaitu melalui pembelajaran dengan model PBL kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model PBL terdiri atas beberapa tahap, yaitu: diawali dengan guru mengucapkan salam, menyiapkan siswa untuk belajar, berdoa, dan mmengecek kehadiran siswa. Melakukan apersepsi yang sellanjutnya menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Orientasi siswa pada masalah, Guru memberikan permasalahan tentang ” menyelesaikan masalah yang melibatkan uang” kemudian guru menjelaskan gambaran pembelajaran tentang materi yang akan diajarkan secara garis besar. Dalam hal ini guru tidak secara penuh menjelaskan tetapi guru juga melakukan tanya jawab dengan siswa, sehingga siswa ikut berperan aktif dalam pembelajaran. 

Langkah selanjutnya yang dilaksanakan oleh guru dalam pembelajaran menggunakan model PBL yaitu mengorganisasikan siswa untuk siap belajar, guru melakukan serangkaian peragaan dengan menggunakan media dan mendefinisikan tugas yang akan siswa kerjakan didalam diskusi kelompok. Membimbing pengalaman individu/kelompok, Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok dibagikan media pembelajaran dan LTS yang telah disediakan oleh guru. Guru mengamati siswa yang diminta untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dalam LTS dengan cara mengamati media gambar yang yang di berikan guru. Menanya, selama pembelajaran berlangsung siswa bertanya mengenai masalah yang di hadapi, guru mengawasi pekerjaan siswa dan memberikan bimbingan atau arahan untuk meluruskan hal-hal yang masih kurang dipahami oleh siswa dalam pemecahan masalah. Mengumpulkan informasi, Siswa mengumpulkan informasi mengenai masalah yang terdapat dalam LTS dengan bantuan media pembelajaran yang berupa gambar. Mengolah informasi, Guru membantu siswa mengolah informasi yang telah ditemukan dalam gambar. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, guru membimbing siswa dalam merancang, dan membuat laporan hasil karya kelompok sesuai dengan LTS dan media yang telah diberikan guru sebagai langkah pokok yang harus dilaksanakan dalam model PBL. 

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II ini, terlihat siswa sudah bisa memecahkan permasalahan yang berkaintan dengan uang, yang dibuktikan dari laporan hasil karya kelompok yang akan dipresentasikan oleh siswa. siswa mengkomunikasikan, perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok yang telah dilaksanakan. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, dengan mengacu pada jawaban siswa, melalui tanya jawab, guru dan siswa membahas penyelesaian masalah. Dan pembelajaran ditutup dengan menyimpulkan pembelajaran serta pemberian penghargaan oleh guru terhadap siswa yang memperoleh nilai yang bagus. 

c. Observasi 


Observasi yang dilaksanakan pada pembelajaran siklus II dianalisis melalui lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas siswa. Dari hasil beberapa temuan kolaborator dan peneliti adalah sebagai berikut, dari segi guru yaitu waktu pembelajaran sudah dapat digunakan dengan baik dari awal pembelajaran sampau akhir pembelajaran. Langkah-langkah model PBL telah terlaksana dengan baik sehingga mengakibatkan aktivitas siswa juga dalam kategori sangat baik. 

Berdasarkan analisis dari lembar observasi aktivitas siswa, siswa telah dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan uang, hal ini terbukti dari meningkatnya aktivitas siwa dalam proses pembelajaran. Siswa telah berani mengemukakan pendapat dan bertanya dalam proses pemecahan masalah. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya berupa laporan hasil diskusi kelompok telah dikembangkan dan disajikan dengan baik. Sejalan dengan meningkatnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran menggunakan model PBL mengakibatkan hasil evaluasi matematika siswa menjadi meningkat. Hasil persentase klasikal mencapai 92% dengan 25 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal 65. 

d. Refleksi 


Kegiatan refleksi dilakukan secara kolaboratif antara peneliti sebagai observer dengan guru mitra sebagai praktiukan disetiap pembelajaran berakhir. Berdasarkan hasil kolaborasi diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di kelas IV sudah dapat dikatakan berhasil. Pada siklus kedua ini guru telah melaksanakan rencana pembelajaran dengan sebaik mungkin sesuai dengan perencaan yang telah dibuat. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa sudah mencapai 892%. 

Pada saat pelaksanaan pembelajaran, guru sudah berhasil sepenuhnya membangkitkan aktivitas belajar siswa, hal ini terlihat sudah semua siswa siap untuk menerima pelajaran, siswa aktif mengikuti pelajaran selama proses pembelajaran berlangsung. Siswa telah dapat menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan uang. Siswa sudah bisa menyerap materi yang telah dipelajari, ini dapat dilihat dari peningkatan hasil tes belajar yang telah dikalsanakan. Nilai yang didapat siswa telah memberikan hasil yang memuaskan, baik nilai diskusi kelompok maupun hasil evaluasi serta ketuntasan belajar siswa secara klasikal. 

KESIMPULAN 

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab IV di atas dapat disimpulkan bahwa Hasil observasi terhadap aktivitas guru dalam menerapkan model Problem Based Learning (PBL) selama dua siklus mengalami peningkatan pada setiap siklus, dapat diketahui bahwa model PBL mampu meningkatkan aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran diantaranya membimbing siswa dalam memecahkan permasalahan yang diberikan baik secara individu maupun secara kelompok, memberi tanggapan atas presentasi hasil diskusi. 

Berdasarkan hasil analisis lembar observasi aktivitas siswa terlihat bahwa siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran menggunakan model PBl, hal ini terlihat dari siswa yang telah aktif dalam proses pembelajaran, berani mengemukakan pendapat dan bertanya tentang hal yang belum diketahui siswa. Siswa telah dapat menyelesaikan permasalahan yang berkaitang dengan uang. Dari hasil analisis lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas siswa diperoleh peningkatan sehingga mengalami peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II, yaitu ketunbtasan klasikal dari 70% mencapai 92% dengan 25 siswa yang telah mencapai KKM. Hal ini merupakan bukti keberhasilan pelaksanaan penelitian yang telah dilakukan di kelas IV SDN 016 Langgini Kabupaten Kampar.


III.V Pengaruh Kemampuan Awal Matematika dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika




Metodologi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah beberapa SMP Negeri di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dengan asumsi dapat merepresentasikan pengaruh kemampuan awal matematika dan motivasi belajar terhadap hasil belajar matematika peserta didik. Sekolah yang yang dijadikan penelitian adalah SMP Negeri 41, SMP Negeri 218 dan SMP Negeri 227 Jakarta. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan probability sampling dengan teknik simple random sampling, dimana dari jumlah sampel yang ada diambil secara acak 99 orang peserta didik yang kemudian dijadikan sampel. Penelitian dilakukan selama 3 bulan. Analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakanmetode survey korelasional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes matematika dan non tes berupa angket.

Untuk memberikan gambaran yang jelas, maka dapat digambarkan desain penelitian

sebagai berikut :

Simpulan 

Hasil penelitian membuktikan bahwa kemampuan awal mempunyai pengaruh kuat terhadap hasil belajar, oleh karena ituuntuk mengembangkan kemampuan awal peserta didik harus lebih meningkatkan porsi latihan untuk belajar matematika dan banyak membaca di luar sekolah sebagai bekal pengetahuan awal. Terdapat pengaruh kemampuan awal terhadap hasil

belajar matematika peserta didik. Terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap hasil

belajar matematika peserta didik.Terdapat pengaruh interaksi antara kemampuan awal dan motivasi belajar terhadap hasil belajar matematika. Guru sebagai unsur terdepan dalam pembelajaran harus memperhatikan strategi apa yang harus dilakukan agarpeserta didik mampu belajar dengan baik pada mata pelajaran matematika. Dengan memberikan pembelajaran yang baik dan sesuai dengan keinginan peserta didik maka dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik yang pada akhirnya berpengaruh pada hasil belajarnya.







BAB IV

PENERAPAN

IV.I BELAJAR DILEMBAGA PENDIDIKAN SD

Lembaga pendidikan adalah lembaga atau tempat berlangsungnya proses pendidikan atau belajar mengajar yang dilakukan dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku individu menuju ke arah yang lebih baik melalui interaksi dengan lingkungan sekitar.

Tingkat satuan pendidikan yang dianggap sebagai dasar pendidikan adalah sekolah dasar. Sekolah Dasar (SD) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia.  Secara umum pengertian sekolah dasar dapat kita katakan sebagai institusi pendidikan yang menyelenggarakan proses pendidikan dasar dan mendasari proses pendidikan selanjutnya. Di sekolah inilah anak didik mengalami proses pendidikan dan pembelajaran.

Pelajar sekolah dasar berkisar umur 7-12tahun dengan lama jenjang pendidikan 6tahun. Pendidikan ini diselenggarakan untuk anak-anak yang telah berusia tujuh tahun dengan asumsi bahwa anak seusia tersebut mempunyai tingkat pemahaman dan kebutuhan pendidikan yang sesuai dengan dirinya.

Tujuan pendidikan dasar pada pokoknya adalah mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar bagi anak yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat. Selain itu, pendidikan sekolah dasar bertujuan mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan tingkat menengah.


Adapun karakteristik anak usia SD yakni:

1. Senang bermain. Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melakukan kegiatan dengan mengajak siswa untuk bermain sekaligus belajar.

2. Senang bergerak. Orang dewasa dapat duduk berjam‐jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit.

3. Senang bekerja dalam kelompok. Anak usia SD dalam pergaulannya dengan kelompok sebaya, mereka belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi,

4. Senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung.


Adapun Landasan Yuridis Pendidikan Dasar yang telah di atur dalam undang-undang yakni:

1.    UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

     Pasal 6 menyatakan :

Setiap warga Negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.

Setiap warga Negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan.


Pasal  17 menyatakan :

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.


2.    PP RI No.47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar

Bab I Pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa “Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah, berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanwiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat”.


3.    PP RI No.17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan

Bab I Pasal 1 ayat 7, menyatakan bahwa “Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah, yang diselenggarakan pada satuan pendidikan berbentuk Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan kelanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah, atau bentuk lain yang sederajat”.

Aplikasi teori belajar Bruner pada matematika di SD :

Rumus Luas Segitiga:

a. Enaktif : 

- Membuat berbagai segitiga dari kertas

- Melipat segitiga tersebut sehingga menjadi sebuah persegi panjang 

b. Ikonik :

- Menggambar berbagai segitiga 

- Menggambar bagaimana melipat segitiga tersebut.

c. Simbolis : L segitiga = 2x L persegi panjang






BAB V

PENUTUP

V.I Kesimpulan 

Dari hasil penelitian, terungkap bahwa gaya belajar siswa tidak mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, namun untuk tingkat kemandirian belajar mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Pembelajaran merupakan salah satu modelpembelajaranyang digunakan dalam pendekatan konstruktivisme. Pada pembelajaran penemuan, siswadidorong untuk terutama belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. untuk mendorong siswa agar mempunyai pengalaman dan melakukan eksperimen dengan memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip atau konsep-konsep bagi diri mereka sendiri. Pembelajaran penemuan memliki beberapa kelebihan. Pembelajaran penemuanmembangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi siswa untuk terus bekerja hingga menemukan jawaban. Siswa melalui pembelajaran penemuan mempunyai kesempatan untuk berlatihmenyelesaikan soal, mempertajam berpikir kritis secara mandiri, karena mereka harusmenganalisa dan memanipulasi informasi.


Komentar